Kamis, 09 Juni 2011

artikel " sampah "


Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama


Manusia sebagai makhluk  hidup, pasti menghasilkan sisa-sisa yang dikenal dengan sampah. Sampah menurut kamus lingkungan adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pemakaian barang rusak atau cacat dalam pembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau buangan.
Membicarakan masalah kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggal baik di perkotaan maupun di pemukiman sudah barang tentu tidak akan lepas dari membicarakan masalah sampah. Sampah merupakan suatu benda yang yang harus diperangi jika sampah tersebut tidak bernilai ekonomi. Menurut Dr. Tandjung, M.Sc, sampah merupakan sesuatu yang tidak berguna lagi dan dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula. Sampah seperti dalam pepatah “ habis manis sepah dibuang” ini menunjukkan bahwa manusia menggunakan suatu barang itu jika barang tersebut masih bisa digunakan dan akan dibuang jika barang tersebut sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.
Sampah merupakan istilah umum yang sering digunakan oleh masyarakat untuk menyatakan limbah padat. Limbah atau bahan buangan tersebut terdiri dari tiga bentuk yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas, dari ketiga bentuk tersebut yang sering dijumpai adalah limbah padat atau sampah karena terdapat dimana-mana dan menjadi pembicaraan hangat yang perlu ditangani dan mendapat perhatian yang sangat besar.
Sampah merupakan material yang tersisa dari suatu proses yang tidak diinginkan lagi. Manusia mendefinisikan sampah menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses alam sebenarnya tidak ada yang namanya konsep sampah yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam itu berlangsung. Akan tetapi dalam kehidupan manusia mengenal konsep sampah maka sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya.
Berdasarkan sumbernya sampah dapat diklasifikasikan meliputi:
Pertama, Sampah alam dihasilkan di kehidupan liar diintegrasikan melalui suatu proses yang dinamakan daur ulang secara alami misalnya daun-daun yang sudah kering di hutan yang teruarai akan menyatu dan menjadi tanah. Di luar kehidupan yang bebas, maka sampah-sampah ini akan menjadi masalah bagi manusia, misalnya daun-daun yang sudah kering dan rontok di sekitar rumah pemukiman.
Kedua, Sampah manusia atau human waste merupakan istilah lain dari hasil pencernaan manusia yaitu feses dan urine. Sampah ini akan menjadi bahaya yang serius bagi kesehatan manusia karena dapat digunakan sebagai tempat berkembangnya suatu penyakit yang disebabkan adanya virus dan  bakteri yang merugikan kesehatan tubuh manusia. Hal ini dapat teratasi dengan cara hidupyang higinies dan sanitasi. Kotoran manusia atau sampah itu sendiri dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui system urinoir tanpa air. Sampah manusia ini juga bisa dijadikan pupuk setelah mengalami proses buatan yang dirancang oleh manusia.
Ketiga, Sampah konsumsi ini dihasilkan oleh manusia yang sebagai pengguna barang. Sampah ini merupakan kotoran atau sisa barang yang dibuang oleh pengguna barang ke dalam tempat sampah.
Keempat, sampah nuklir ini merupakan sampah hasil dari fusi dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Oleh sebab itu, maka sampah ini disimpan ditempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut.
Berdasarkan sifatnya, sampah ini dibagi menjadi dua yaitu sampah organic dan sampah anorganik. Sampah organic (degradable) merupakan jenis sampah yang dapat diuraikan. Sampah organic ini mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, dedaunan yang kering. Jenis sampah ini dapat diproses menjadi kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk saat akan menanam bunga atau tumbuhan di lingkungan sekitar rumah. Sampah organic sangat mudah pemrosesannya sehingga setiap orang dapat mengolah sampah ini.
Sampah anorganik (undegradable) merupakan sampah yang sukar terurai karena mempunyai rantai ikatan kimia yang panjang dan sukar membusuk, misalnya plastik, kaca, selulosa, botol, gelas minuman dan sebagainya. Sampah ini tergolong kedalam jenis sampah komersial, dimana sampah ini mempunyai nilai ekonomi yang dapat langsung diperdagangkan. Sampah ini dihasilkan dari lingkungan kegiatan perdagangan seperti toko, warung, restaurant maupun swalayan.
Berdasarkan bentuknya sampah dapat dibagi menjadi dua yaitu sampah padat dan sampah cair. Sampah padat adalah semua bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Sampah ini dapat berupa sampah dapur, sampah kebun, plastik, gelas dan lain-lain. Berdasarkan bahannya sampah ini dibagi menjadi sampah organik dan anorganik, sedangkan berdasarkan kemampuan diurai oleh alam maka dibagi menjadi dua yaitu biodegradable yang dapat diurai secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, misalnya sampah dapur, sedangkan untuk jenis kedua yaitu non biodegradable merupakan sampah yang tidak bisa diurai oleh proses biologi.
Non biodegradable dibagi menjadi dua yaitu recyclable dan non recyclable. Recyclable adalah sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena mempunyai nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan sebagainya. Non recyclable merupakan sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi.
Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan lagi dan dibuang ke tempat pembuangan, misalnya limbah hitam dan limbah rumah tangga. Sampah ini mengandung pantogen yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Manusia yang ingin hidup sehat terjauh dari segala jenis penyakit yang membahayakan bagi tubuh sudah tentu memiliki persepsi yang baik tentang lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja dari manusia itu sendiri. Lingkungan yang memberikan rasa nyaman, rasa aman, dan rasa betah merupakan lingkungan yang baik untuk manusia.
Di lingkungan pemukiman, meskipun lingkungannya sudah baik akan tetapi mereka masih merasa kesulitan dalam hal pembuangan sampah karena lahan pemukiman sangat sempit, sehingga tak ada lagi tempat untuk menampung sampah-sampah yang ada.
Permasalahan umum yang menonjol tentang sampah yaitu sampah dapat menimbulkan perasaan tidak estetik, menjijikan, perasaan kotor dan memuakkan pandangan mata. Sampah yang menumpuk di sekitar lingkungan akan menjadi sarang penyakit yang dampaknya akan berimbas pada manusia di sekitar lingkungan tersebut. Selain menjadi sarang penyakit tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bau yang tak sedab, ini akan mengakibatkan udara tercemar. Sampah yang menumpuk dan terkena air kemudian membusuk akan mencemari air sekeliling baik dengan bau, warna, penyakit dan mikroorganisme yang bersifat pathogen.
Fasilitas, sarana dan biaya operasional penanggulangan sampah masih  belum memadai, dan hal ini tidak sebanding dengan peningkatan volume sampah yang setiap tahunnya meningkat. Disamping itu, keragaman sampah yang tinggi dan tercampur baur akan menyulitkan penanganannya.
Untuk mengurangi kesulitan itu setiap individu harus mampu membedakan mana jenis sampah organik dan mana sampah yang anorganik sehingga dalam penangannya akan mudah dan tidak banyak mengeluarkan biaya. Selain itu, individu juga harus dikenalkan bahwa sampah merupakan bahan baku yang perlu digalakkan secara nasional. Setelah individu mampu memisahkan sampah organik dengan sampah anorganik maka individu tersebut dapat melakukan suatu tindakan, misalnya saja dengan daur ulang. Jenis sampah yang dapat didaur ulang adalah sampah yang tidak bisa didegradasi oleh alam.
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan yang yang tak berguna atau barang bekas menjadi barang (bahan) baru dengan tujuan untuk mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berharga dan berguna. Daur ulang merupakan salah satu strategi pengolahan sampah padat yang terdiri dari pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk. Hal itu seperti yang terkandung dalam hirarki sampah yaitu 3 R (reuse, reduce, and recycle).
Daur ulang ini dilakukan untuk sampah yang tidak mampu didegradasi oleh alam secara alami. Proses daur ulang harus menghasilkan barang yang mirip dengan barang aslinya dengan material yang sama. Misalnya, kertas juga dapat didaur ulang dengan mencampurkan kertas bekas yang telah dijadikan pulp dengan material kertas baru. Namun kertas akan selalu mengalami penurunan kualitas jika terus didaur ulang.
Plastik dapat didaur ulang, saat ini berbagai produk plastik terdapat kode mengenai jenis plastik yang membentuk material tersebut sehingga mempermudah untuk mendaur ulang jenis plastik tersebut.
Pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan dan pendaur-ulangan adalah cara yang digunakan manusia dalam pengelolaan sampah yang ada di lingkungan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari sampah itu sendiri yang mampu mengganggu kesehatan manusia.
Sampah harus dikelola sehingga tidak menggangu kenyamanan masyarakat dan lingkungan sekitar. Sesuai dengan pasal 28 H ayah (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memeberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pesan yang ditinggalkan dalam Undang-Undang tersebut memberikan konsekuensi bahwa pemerintah mempunyai kewajiban memberikan pelayanan publik dalam pengelolaan sampah.
Melihat Undang-Undang diatas maka pemerintahlah yang berwenang dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah. Namun secara operasional pengelolaan sampah tersebut dapat dilakukan secara kerja sama dengan badan usaha. Selain pemerintah dan badan usaha, kelompok masyarakat yang bergerak dalam bidang sampahpun harus diikutsertakan dalam pengelolaan sampah sehingga pengelolaan sampah akan berjalan dengan baik.
Pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan cara penumpukan, pengomposan, pembakaran dan sanitary landfill. Metode penumpukan (dumping) ini bersifat sangat sederhana sekali akan tetapi menimbulkan resiko terjangkitnya penyakit yang menular. Metode penumpukan ini sering digunakan di negara yang sedang berkembang. Pada prinsipnya dengan metode ini adalah penumpukan sampah di tanah yang mencekung tanpa menutup tumpukan sampah tersebut.   
Cara pengelolaan sampah dengan penumpukan (dumping) yang menimbulkan dampak terjangkitnya penyakit dan dapat mencemari udara maka pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan cara pengomposan (composting). Cara ini sederhana dan dapat mengasilkan pupuk kompos. Sampah-samaph jenis organik dipotong-potong kemudian dibasahi dan ditumpuk dalam tanah yang sudah dilubangi berbentuk persegi dengan kedalaman 1,5 meter dan diberi penutup. Sampah organik tersebut dimasukkan kedalam lubang tersebut, kemudian didiamkan selama 16 hari, setelah itu sampah dibalik dan pembalikan berikutnya dilakukan pada hari ke 46. Setelah terjadi proses pembalikan yang kedua maka sampah didiamkan selama 90 hari, untuk kemudian dijadikan pupuk yang bernilai ekonomi.
Ada beberapa keluarga yang mengelola sampah dengan cara mencampurkan sampah jenis organik dengan kotoran hewan (sapi, kambing, kerbau) di dalam kandang, sehingga sampah jenis organik tersebut akan membusuk dengan kotoran hewan tersebut dan menjadi pupuk yang bisa digunakan untuk penanaman berbagai macam tumbuhan.
Metode selanjutnya yang digunakan oleh masyarakat desa dalam pengelolaan sampah yaitu dengan cara sanitary landfill dimana metode ini seperti metode penumpukan dimana pada metode ini setiap lubang yang digunakan dalam penumpukan sampah ditutup dengan tanah apabila lubang tersebut sudah penuh dan membuat lubang lagi untuk penumpukan sampah berikutnya. Metode ini sangat banyak dilakukan di pedasaan mengingat lahan dipedasaan yang masih luas karena untuk melakukan metode ini memerlukan areal yang luas. Metode ini dapat mengurangi terjadi pencemaran udaya yang diakibatkan oleh sampah.
Untuk jenis sampah yang berupa plastik biasanya akan dilakukan dengan cara daur ulang maupun dengan cara pembakaran. Pengelolaan sampah jenis plastik tidak dapat dilakukan dengan cara penumpukan atau dengan cara pengomposan kerena plastik merupakan bahan yang sulit diurai kalaupun bisa pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Pengelolaan sampah berupa plastik akhir-akhir ini mendatangkan rejeki tersendiri bagi mereka yang kreatif mengolah sampah plastik. Tidak asing lagi jika mendengar ada industry rumah tangga yang mengolah sampah plastic menjadi barang yang diminati oleh orang lain. Sampah plastik tersebut oleh orang yang kreatif diubah menjadi barang yang bernilai jual tinggi. Misalnya saja diubah menjadi tas yang bernilai jual.
Di desa Klero tepatnya di Kaligandu terdapat ibu rumah tangga yang memanfaatkan plastik bekas kemasan detergen bubuk menjadi tikar dengan cara menggabungkan beberapa kemasan detergen bubuk tersebut dengan cara dijahit. Itu salah satu contoh orang-orang yang peduli terhadap lingkungan. Selain itu seperti seorang ibu rumah tangga dari Surabaya, Tri Winarsih yang juga mendaur ulang sampah plastik menjadi tas, tempat tisue, tempat sampah, dan sebagainya.
Jika pengelolaan sampah dapat berjalan dengan benar dan baik maka pengelolaan ini akan mendatang keuntungan tersendiri. Namun, jika kekeliruan dalam cara pembuangan atau pengelolaan sampah akan menyebabkan pembuangan tersebut menjadi tempat bersarangnya sumber penyakit. Tidak sedikit akibat yang ditimbulkan oleh sampah yang tidak dikelola dengan baik. TPA yang menjadi tempat pembuangan akhir dari sampah akan semakin menggunung jika pemerintah tidak bia mengelola sampah tersebut. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun sampah akan mengalami peningkatan jumlah disetiap tempat pembuangan akhir. Hal ini akan berakibat terjadinya longsor penumpukan sampah karena pemerintah tidak mampu memproses sampah dengan baik.
Di daerah pemukiman padat pendudukyang dekat dengan aliran sungai dan lingkungan sekitar sudah tidak ada lagi tempat pembuangan sampah maka orang-orang sekitar akan membuang sampah-samapah di aliran sungai. Padahal kegiatan ini akan membahayakan mereka. Bila setiap hari penduduk sekitar aliran sungai tersebut membuang sampah di aliran sungai secara teratur maka akan memungkinkan tersumbatnya aliran air dalam sungai tersebut tidak lancar. Seperti di kota-kota besar, misalnya Jakarta, penduduknya yang dekat dengan aliran sungai akan sering mengalami kebanjiran saat musim hujan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, salah satunya aliran sungai tersumbat sampah yang dibuang oleh warga sekitar sungai tersebut sehingga aliran sungai tidak bisa mengalir dengan lancar dan akibatnya terjadi banjir.
Sampah telah diketahui mempunyai potensi atau dampak negative untuk mencemari lingkungan, padahal lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan maupun kesehatan orang-orang yang tinggal dalam lingkungan tersebut. Secara keseluruhan sampah mempunyai peranan yang sangat penting dalam kesehatan.
Perlu adanya kesadaran yang sangat besar terhadap keberadaan dan pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah dengan benar maka akan mengurangi resiko tertularnya suatu penyakit. Pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama. Dengan adanya kerjasam antar pemerintah dan warga sekitar lingkungan maka dalam pengelolaan sampah akan berjalan dengan baik sesuai dengan harapan bersama yang menginginkan lingkungan bersih dari sampah dan bebas dari sarang penyakit.
Suatu filosofi yang harus diketahui oleh semua lapisan masyarkat tentang sampah yaitu bahwa sampah merupakan bahan baku untuk pembuatan berbagai produk, misalnya tas, tempat tisue, tempat sampah, tikar dan sebagainya. Andaikata filosofi ini dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat maka sampah tak lagi dipandang sebagai barang buangan akan tetapi menjadi suatu barang yang mamapu mendatangkan berbagai macam keuntungan. Janganlah hanya manis yang diambil, kemudian sepahnya terus dibuang, akan tetapi buatlah sepah itu  menjadi sesuatu yang berharga yang banyak mendatangkan keuntungan.  

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. .”Pengelolaan Sampah”.http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah/ download 4-06-2011.
Astriani. 2009. ”Pengertian Sampah”.http://astriani.wordpress.com/2009/01/20/ pengertian-sampah/download 4-06-2011.
Gumbira, E Sa’id. 1987. Sampah Masalah Kita Bersama. Jakarta : Mediyatama Sarana Perkasa.
Murtadho, Djuli dan E. Gumbira Sa’id. 1988. Penanganan dan Pemanfaatan Limbah Padat. Jakarta : Mediyatama Sarana Perkasa.
Suwartiningsih, Sri. 2010. Absennya Negara dan Survival Strategy Komunitas Terabaikan (Studi Pemulung di TPA Sampah Jatibarang SEmarang). UKSW : Widya Sari.
Wawali. 2010.“Manfaatkan Sampah Plastik”.http://mastermesin.com/tag/manfaat-sampah-plastik/download 8-06-2011.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar